top of page

Semesta Cinta

  • Jun 20, 2022
  • 3 min read

Updated: Jun 22, 2022




JAKARTA, Pena Fantasi - Mereka berdua tidak pernah berharap untuk dipertemukan dan dibuat jatuh cinta oleh semesta.


"Mbak,kakinya kenapa?" Laki-laki dengan kemeja navy bertanya.


"Ini kena gelas pecah mas" perempuan yang ditanya mendongak,tangannya tetap menutup tumit,segaris darah mengalir.


"Boleh saya lihat?" Laki-laki itu masih bertanya.


"Udah ngga apa-apa ko mas,ini mau saya plester" perempuan itu sedikit mengelak.


"Itu darahnya mbak,saya lihat sebentar ya" laki-laki itu sedikit memaksa.


Menyerah,perempuan dengan atasan soft green membuka tangannya,memperlihatkan tumit dengan darah segar yang sebagian kecilnya sudah mengering.


"Ini robek mbak,tunggu sini sebentar ya. Saya mau ambil revanol,betadine dan perban" laki-laki itu beranjak.


Perempuan mengangguk pelan.


Tak sampai tiga menit laki-laki tadi datang,izin menyentuh tumit,dan mulai sibuk mengobati.


"Terima kasih" perempuan itu tersenyum seraya merapihkan rok putih panjangnya.


"Ya sama-sama"


"Firas" lanjut laki-laki itu dengan memperkenalkan namanya.


"Aruni",dengan senyum.


Mereka sama-sama tahu posisi masing-masing. Aruni,mahasiswa magang dibagian editing sedangkan, Firas ketua redaksi.


Percakapan terus berlanjut,menghadirkan getaran-getaran yang tak biasa. Firas jatuh cinta. Mereka melewati hari-hari yang bahagia.


"Aruni,kamu tahu tidak mengapa cinta semakin lama semakin rumit?" Tanya Firas saat sore ini mereka memutuskan untuk menetap di alun-alun bekasi.


"Aku tahu,karena semakin kita menyelami,semakin kita menaruh harap dan harapan yang mengembang dikepala kita lah yang membuatnya semakin rumit" Aruni tersenyum,manis sekali.


"Cinta adalah hal abstrak yang tidak bisa ditaruh banyak harapan. Betul katamu,harapan yang membuat semuanya semakin rumit" Firas menatap Aruni dalam.


"Sepertinya,aku sudah jatuh cinta Aruni"


"Dengan siapa?" Mata Aruni berbinar seperti berbicara "akhirnya". Perjalanan yang Firas tempuh dalam percintaan cukup panjang.


"Dengan kamu" Firas berkata renyah.


"Aku?" Dahi Aruni mengkerut.


"Iya kamu" Firas meyakinkan


"Tapi mengapa?" Aruni menatap Firas dalam.


"Kamu cantik,dari segi manapun terlihat cantik,cara bicaramu,cara kamu mengontrol emosi,caramu tertawa,aku mencintaimu,semuanya". Firas membalas tatapan Aruni.


"Selamat ya" Aruni tersenyum.


"Selamat?untuk apa?" Air muka Firas bingung.


"Kamu sudah mencintaiku" Aruni masih tersenyum.


Mereka berbincang,hingga senja hampir hilang.


❤❤❤


Aruni menekan bel kuat-kuat,hatinya sesak.


"Aruni,kenapa?" Tanya ibu kos,nadanya khawatir, bagaimana tidak khawatir jika mendapati aruni dengan jilbab yang sudah miring tidak karuan.


Aruni menggeleng,"Aruni ke kamar dulu ya buk". Ibu kos mengangguk.


Dunianya Runtuh,Aruni sakit,sakit parah.


Pernyataan Firas sore tadi penyebabnya,bukan itu bukan karena Aruni tidak mencintai Firas.


Justru ini karena Aruni sangat menyayangi Firas. Ia dan Firas adalah dua makhluk dengan dasar yang berbeda.


Firas,darah Minang menyatu dalam dirinya,raganya menjelma kelembutan sultan keraton Jogja. Bentuk nyata keindahan makhluk,laki-laki baik dan rendah hati yang Aruni temui setelah Ayahnya.


Tak ada yang bisa menolak Firas,lembut bicaranya,peka rasanya,baik perangainya. Aruni tertarik sejak mereka kali pertama bertemu di pantry kantor. Firas yang asing,membantunya mengobati luka.


Mata Aruni terpejam,"mengapa ini berkali-kali lipat lebih menyesakkan dari perkiraanku sebelumnya?Allah apakah aku yang telah terlalu banyak menaruh harap?,bantu aku yang dhoif ini,bantu aku yang kerap kali lupa sehingga bisa saja dimakan rayap berbentuk cinta. Jangan biarkan aku mati karena digerogoti".


Aruni melamakan sujud di malam sepertiganya.


❤❤❤


"Terima kasih atas kerja samanya selama enam bulan ini kepada teman-teman mahasiswa. Semoga kedepannya kita bisa kembali menjalin kerja sama".


Ini menjadi hari terakhir Aruni di bekasi. Seketika semua mengharu,satu persatu teman sejawat,senior menyalami,beberapa memeluk dengan air mata yang sudah membanjir.


"Aruni" ini suara Firas


"Terima kasih ya sudah banyak membantu" Aruni tersenyum.


Firas mengangguk,"seberapa tidak mungkinnya kita?"


"Dasar kita sudah berbeda,yang terjadi saat ini memang bukan murni kesalahan kita. Cinta itu memang fitrah Firas. Tapi,kalau sudah tahu jalan yang ditempuh menjadi sebuah kesalahan namun,tetap kita lanjutkan,semua yang tadinya baik seketika menjadi salah. Di agamamu juga tertera bukan firman untuk menikahi yang seiman?jangan dustai Firas,jangan. Yang terbaik tetap akan datang padamu. Bukan berarti aku,bukan juga berarti tidak aku. Bisa jadi aku dilain waktu,bisa jadi sosok yang bisa tulus beribadah denganmu". Aruni tersenyum.


Firas menghapus jejak air pada pipinya.


"Ini bukan salam perpisahan karena,harapanku kita akan bertemu diwaktu-waktu terbaik dalam garis takdir,Aku mencintaimu Aruni." Kata Firas kemudian berdiri lebih dekat.


"Aku permisi firas" Aruni masih tersenyum.


Setelahnnya,Firas menyaksikan kendaraan bergerbong itu melaju,meninggalkan bekasi.


"Aruni,aku mencintaimu" rapal Firas tanpa henti.


❤❤❤


Ditengah estetika waktu, langit memberanikan diri tampil dengan merah saga,sangat gagah. Diatas pasir pantai yang putih bersih Aruni dan Firas berbagi cinta dengan makluk berbeda.


"Hid,mengapa kamu memilihku?", Aruni merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Zahid.


"Waktu itu aku minta dengan sepenuh hati kepada tuhan,agar kelak dihadirkan satu ciptaanya yang kubutuhkan. Lewat kertas berisi sajak yang tak sengaja terjatuh dijalan malioboro,tertera namamu,dan aku menjadi yakin meski aku belum tahu rupamu" Zahid tersenyum.


"Padahal malioboro luas banget ya hid,bisa saja tulisanku itu tersapu angin dan berakhir diselokan" Aruni menerawang.


"Takdir memang seindah itu Aruni" Zahid merangkul bahu kekasih yang ia nikahi seminggu lalu.


"Terima kasih yaa sudah mempercayakan aku" Aruni beringsut menempelkan kepala pada bahu lelakinya.


Zahid mengecup dalam. Ujung jilbab Aruni berkibar.


❤❤❤


"Aruni,semesta memang kerap kali melempar canda tapi,untuk saat ini aku sedang tidak berminat untuk bercanda. Apapun itu jika tentangmu,aku akan selalu sungguh-sungguh. Semoga kebahagiaan selalu menaungi dirimu. Sampai saat ini,saat semuanya telah berubah, perasaanku,tetap sama". Gumam Firas dalam


"Mas,ayo udah ditunggu mamah". Ucap Perempuan dengan dress hijau selutut.


"Ayo" Firas berjalan perlahan menyapu pasir pantai,menghampiri Hilda,tunangannya.


Mereka berjalan beriringan,debur ombak melirih,"Semoga,kelak cinta mereka tumbuh dengan indah".



Comments


Kritik & Saran Dari Kamu, Sangat Berarti Untuk kami

Thanks for submitting!

Dipersembahkan Dari Pena Fantasi Untuk Kaum Muda

bottom of page